Kerajaan-Kerajaan
Islam di Indonesia beserta Peninggalan Kebudayaanya
a. Kerajaan Samudera Pasai dan
peninggalannya
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh
dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai
terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur
Aceh).
Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti
memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai
adalah seperti berikut.
(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan
dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain
melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang
menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.
(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I)
yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak
kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.
(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M).
Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif
menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai
berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra
Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah
dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka,
Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh
Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh
Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.
Catatan lain mengenai kerajaan ini dapat
diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari Maroko. Menurut
Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan dagang yang makmur.
Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini mengingat
letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka. Mata uangnya uang emas
yang disebur deureuham (dirham).
Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat
studi Islam. Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi,
Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand. Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah
kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah.
Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi
panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.
b. Kerajaan Aceh dan peninggalannya
Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah
Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali
Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera
Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka.
Para pedagang kemudian lebih sering datang ke
Aceh.
Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja
(Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem:
pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan
pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau
teungku.
Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju
dan mundur. Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan
Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman
keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di
Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu,
Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota
Alam.
Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi
sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di bawah
pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh
permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Aceh
makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku,
serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah. Akhirnya, Belanda
berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.
Dalam bidang sosial, letaknya
yang strategis di titik sentral jalur perdagangan internasional di Selat Malaka
menjadikan Aceh makin ramai dikunjungi pedangang Islam.
Terjadilah asimilasi baik di bidang sosial maupun
ekonomi. Dalam kehidupan
bermasyarakat, terjadi perpaduan antara adat istiadat dan ajaran agama Islam. Pada sekitar
abad ke-16 dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah
Fansuri, Syamsuddin as-Sumtrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari
Singkil.
Keempat ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya
di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.
Dalam kehidupan ekonomi, Aceh berkembang dengan
pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai daerah pantai barat dan timur
Sumatra, Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan sumber daya alam, seperti
beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah.
c. Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang dengan
Peninggalannya
Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau
Jawa. Kerajaan yang didirikan oleh Raden Patah ini pada awalnya adalah sebuah
wilayah dengan nama Glagah atau Bintoro yang berada di bawah kekuasaan
Majapahit. Majapahit mengalami kemunduran pada akhir abad ke-15. Kemunduran ini
memberi peluang bagi Demak untuk berkembang menjadi kota besar dan
pusat perdagangan. Dengan bantuan para ulama Walisongo, Demak berkembang
menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan
wilayah timur Nusantara.
Sebagai kerajaan, Demak diperintah silih berganti
oleh raja-raja. Demak didirikan oleh Raden Patah (1500-1518) yang bergelar
Sultan Alam Akhbar al Fatah. Raden Patah sebenarnya adalah Pangeran Jimbun,
putra raja Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat. Daerah
kekuasaannya meliputi daerah Demak sendiri, Semarang, Tegal, Jepara dan
sekitarnya, dan cukup berpengaruh di Palembang dan Jambi di Sumatera, serta
beberapa wilayah di Kalimantan. Karena memiliki bandar-bandar penting seperti
Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik, Raden Patah memperkuat armada lautnya sehingga
Demak berkembang menjadi negara maritim yang
kuat. Dengan kekuatannya itu, Demak mencoba menyerang Portugis yang pada saat
itu menguasai Malaka. Demak membantu Malaka karena kepentingan Demak turut
terganggu dengan hadirnya Portugis di Malaka. Namun, serangan itu gagal.
Raden Patah kemudian digantikan oleh Adipati Unus
(1518-1521). Walau ia tidak memerintah lama, tetapi namanya cukup terkenal
sebagai panglima perang yang berani.
Ia berusaha membendung pengaruh Portugis jangan
sampai meluas ke Jawa. Karena mati muda, Adipati Unus kemudian digantikan oleh
adiknya, Sultan Trenggono (1521-1546). Di bawah pemerintahannya, Demak
mengalami masa kejayaan. Trenggono berhasil membawa Demak memperluas wilayah
kekuasaannya. Pada tahun 1522, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah
menyerang Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Baru pada tahun 1527, Sunda Kelapa
berhasil direbut. Dalam penyerangan ke Pasuruan pada tahun 1546, Sultan
Trenggono gugur.
Sepeninggal Sultan Trenggono, Demak mengalami
kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen,
saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto, putra
sulung Sultan Trenggono. Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya
Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.
Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh
Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang. Joko
Tingkir (1549-1587) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat
Kerajaan Demak ke Pajang.
Kerajaannya kemudian dikenal dengan nama Kerajaan
Pajang.
Sultan Hadiwijaya kemudian membalas jasa para
pembantunya yang telah berjasa dalam pertempuran melawan Arya Penangsang.
Mereka adalah Ki Ageng Pemanahan menerima hadiah berupa tanah di daerah Mataram
(Alas Mentaok), Ki Penjawi dihadiahi wilayah di daerah Pati, dan keduanya
sekaligus diangkat sebagai bupati di daerahnya masing-masing. Bupati Surabaya
yang banyak berjasa menundukkan daerah-daerah di Jawa Timur diangkat sebagai
wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Panarukan.
Ketika Sultan Hadiwijaya meninggal, beliau
digantikan oleh putranya Sultan Benowo. Pada masa pemerintahannya, Arya
Pangiri, anak dari Sultan Prawoto melakukan pemberontakan. Namun, pemberontakan
tersebut dapat dipadamkan oleh Pangeran Benowo dengan bantuan Sutawijaya, anak
angkat Sultan Hadiwijaya. Tahta Kerajaan Pajang kemudian diserahkan Pangeran
Benowo kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pusat Kerajaan Pajang
ke Mataram.
Di bidang keagamaan, Raden Patah dan dibantu para
wali, Demak tampil sebagai pusat penyebaran Islam. Raden Patah kemudian
membangun sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Demak.
Dalam bidang perekonomian, Demak merupakan
pelabuhan transito (penghubung) yang penting. Sebagai pusat perdagangan Demak
memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik.
Bandar-bandar tersebut menjadi penghubung daerah penghasil rempah-rempah dan
pembelinya. Demak juga memiliki penghasilan besar dari hasil pertaniannya yang
cukup besar. Akibatnya, perekonomian Demak berkembang degan pesat.
d. Kerajaan Mataram dan Peninggalannya
Sutawijaya yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang
dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan
ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram. Sutawijaya kemudian menjadi raja
Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601)
tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan.
Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah tenggara kota Yogyakarta sekarang)
ini selalu terjadi perang untuk menundukkan para bupati yang ingin melepaskan
diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan
bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat ditundukkan. Daerah yang terakhir
dikuasainya ialah Surabaya dengan bantuan Sunan Giri.
Setelah Senopati wafat, putranya Mas Jolang
(1601-1613) naik tahta dan bergelar Sultan Anyakrawati. Dia berhasil menguasai
Kertosono, Kediri, dan Mojoagung. Ia wafat dalam pertempuran di daerah Krapyak
sehingga kemudian dikenal dengan Pangeran Sedo Krapyak.
Mas Jolang kemudian digantikan oleh Mas Rangsang
(1613-1645). Raja Mataram yang bergelar Sultan Agung Senopati ing Alogo
Ngabdurracham ini kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Pada masa
pemerintahannya, Mataram mencapai masa keemasan. Pusat pemerintahan dipindahkan
ke Plered. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian
Jawa Barat. Sultan Agung bercita-cita mempersatukan
Jawa. Karena merasa sebagai penerus Kerajaan Demak, Sultan Agung menganggap
Banten adalah bagian dari Kerajaan Mataram. Namun, Banten tidak mau tunduk
kepada Mataram. Sultan Agung kemudian berniat untuk merebut Banten.
Namun, niatnya itu terhambat karena ada VOC yang
menguasai Sunda Kelapa. VOC juga tidak menyukai Mataram. Akibatnya, Sultan
Agung harus berhadapan dulu dengan VOC. Sultan Agung dua kali berusaha
menyerang VOC: tahun 1628 dan 1629.
Penyerangan tersebut tidak berhasil, tetapi dapat
membendung pengaruh VOC di Jawa.
(1) Kutanegara, daerah pusat keraton. Pelaksanaan
pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang dibantu Wedana Lebet
(Wedana Dalam).
(2) Negara Agung, daerah sekitar
Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan dipegang
Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).
(3) Mancanegara, daerah di luar Negara Agung.
Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati.
Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan digantikan
oleh Amangkurat I (1645-1677). Amangkurat I menjalin hubungan dengan Belanda.
Pada masa pemerintahannya. Mataram diserang oleh Trunojaya dari Madura, tetapi
dapat digagalkan karena dibantu Belanda.
Amangkurat I kemudian digantikan oleh Amangkurat
II (1677-1703). Pada masa pemerintahannya, wilayah Kerajaan Mataram makin
menyempit karena diambil oleh Belanda.
Setelah Amangkurat II, raja-raja yang memerintah
Mataram sudah tidak lagi berkuasa penuh karena pengaruh Belanda yang sangat
kuat. Bahkan pada tahun 1755, Mataram terpecah menjadi dua akibat Perjanjian
Giyanti:
Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta)
yang berpusat di Yogyakarta dengan raja
Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I dan Kesuhunan Surakarta yang
berpusat di Surakarta dengan raja Susuhunan Pakubuwono III. Dengan demikian,
berakhirlah Kerajaan Mataram.
Kehidupan sosial ekonomi Mataram cukup maju.
Sebagai kerajaan besar, Mataram maju hampir dalam segala bidang, pertanian,
agama, budaya. Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul kebudayaan Kejawen,
gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam, misalnya
upacara Grebeg, Sekaten. Karya kesusastraan
yang terkenal adalah Sastra Gading karya Sultan Agung. Pada tahun 1633, Sultan
Agung mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari
dengan tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.
e. Kerajaan Banten dan peninggalannya
Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini
pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan
Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah menantu dari Syarif
Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi
kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Syarif Hidayatullah
memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran Sabakingkin.
Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522, Pangeran Saba Kingkin
yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja
Banten.
Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran,
Banten kemudian melepaskan diri dari Demak. Berdirilah Kerajaan Banten dengan
rajanya Sultan Hasanudin (1522- 1570). Pada masa pemerintahannya, pengaruh
Banten sampai ke Lampung. Artinya, Bantenlah yang menguasai jalur perdagangan
di Selat Sunda. Para pedagang dari Cina, Persia, Gujarat, Turki banyak yang
mendatangi bandar-bandar di Banten. Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat
perdagangan selain karena letaknya sangat strategis, Banten juga didukung oleh
beberapa faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) sehingga
para pedagang muslim berpindah
jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor lainnya, Banten merupakan
penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di pasaran dunia.
Sultan Hasanudin kemudian digantikan putranya,
Pangeran Yusuf (1570-1580).
Pada masa pemerintahannya, Banten berhasil
merebut Pajajaran dan Pakuan.
Pangeran Yusuf kemudian digantikan oleh Maulana
Muhammad. Raja yang bergelar Kanjeng Ratu Banten ini baru berusia sembilan
tahun ketika diangkat menjadi raja. Oleh sebab itu, dalam menjalankan roda
pemerintahan, Maulana Muhammad dibantu oleh Mangkubumi. Dalam tahun 1595, dia
memimpin ekspedisi menyerang Palembang. Dalam pertempuran itu, Maulana Muhammad
gugur.
Maulana Muhammad kemudian digantikan oleh
putranya Abu’lmufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan roda
pemerintahan, Abu’lmufakhir dibantu oleh Jayanegara. Abu’lmufakhir kemudian
digantikan oleh Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah. Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah
kemudian digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692).
Sultan Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai
sebuah kerajaan yang maju dengan pesat. Untuk membantunya, Sultan Ageng
Tirtayasa pada tahun 1671 mengangkat purtanya, Sultan Abdulkahar, sebagi raja
pembantu. Namun, sultan yang bergelar Sultan Haji berhubungan dengan Belanda.
Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak menyukai hal itu berusaha mengambil alih
kontrol pemerintahan, tetapi tidak berhasil karena Sultan Haji didukung
Belanda. Akhirnya, pecahlah perang saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap
dan dipenjarakan. Dengan demikian, lambat laun Banten mengalami kemunduran
karena tersisih oleh Batavia yang berada di bawah kekuasaan Belanda.
f. Kerajaan Cirebon dan peninggalannya
Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa
Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan
Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah.
Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi
Cirebon. Ketika Demak mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan)
untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan
bantuan sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh
Syarif Hidayatullah. Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda
Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati di
Jayakarta.
Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh
putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Inilah raja yang menurunkan raja-raja
Cirebon selanjutnya.
Pada tahun 1679, Cirebon terpaksa dibagi dua,
yaitu Kasepuhan dan Kanoman.
Dengan politik de vide at impera yang dilancarkan
Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di Cirebon, kasultanan Kanoman
dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian,
kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.
Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir abad ke-17.
g. Kerajaan Gowa-Tallo dan peninggalannya
Kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan
sebenarnya terdiri atas dua kerjaan:
Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian
bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan
Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana
menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di
Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar.
Karena posisinya yang strategis di antara wilayah
barat dan timur Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk
memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah.
Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah
Bugis. Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar.
Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan
Hasanuddin (1653-1669).
Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan
Makassar baik ke atas sampai ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan.
Karena merupakan bandar utama untuk memasuki
Indonesia Timur, Hasanuddin bercita-cita menjadikan Makassar sebagai pusat
kegiatan perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini merupakan ancaman bagi
Belanda sehingga sering terjadi pertempuran dan perampokan terhadap armada
Belanda. Belanda kemudian menyerang Makassar dengan bantuan Aru Palaka, raja
Bone. Belanda berhasil memaksa Hasanuddin, Si Ayam Jantan dari Timur itu
menyepakati Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Isi perjanjian itu ialah:
Belanda mendapat monopoli dagang di Makassar, Belanda boleh mendirikan benteng
di Makassar, Makassar harus melepaskan jajahannya, dan Aru Palaka harus diakui
sebagai Raja Bone.
Sultan Hasanuddin kemudian digantikan oleh
Mapasomba. Namun, Mapasomba tidak berkuasa lama karena Makassar kemudian
dikuasai Belanda, bahkan seluruh Sulawesi Selatan.
Kehidupan perekonomiannya berdasarkan pada
ekonomi maritim: perdagangan dan pelayaran. Sulawesi Selatan sendiri merupakan
daerah pertanian yang subur. Daerah-daerah taklukkannya di tenggara seperti
Selayar dan Buton serta di selatan seperti Lombok, Sumbawa, dan Flores juga
merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Semua itu membuat Makassar
mampu memenuhi semua kebutuhannya bahkan mampu mengekspor.
Karena memiliki pelaut-pelaut yang tangguh dan
terletak di pintu masuk jalur perdagangan Indonesia Timur, disusunlah
Ade’Allapialing Bicarana Pabbalri’e, sebuah tata hukum niaga dan perniagaan dan
sebuah naskah lontar yang ditulis oleh Amanna Gappa.
h. Kerajaan Ternate dan Tidore dan
peninggalannya
Ternate merupakan kerajaan Islam di timur yang
berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin
adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di
pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja.
Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi
incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate
cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih.
Ternate dan Tidore hidup berdampingan secara
damai. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Portugis dan
Spanyol datang ke Maluku, kedua kerajaan berhasil diadu domba. Akibatnya,
antara kedua kerajaan tersebut terjadi persaingan. Portugis yang masuk Maluku
pada tahun 1512 menjadikan Ternate sebagai sekutunya dengan membangun benteng
Sao Paulo. Spanyol yang masuk Maluku pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai
sekutunya.
Dengan berkuasanya kedua bangsa Eropa itu di
Tidore dan Ternate, terjadi pertikaian terus-menerus. Hal itu terjadi karena
kedua bangsa itu sama-sama ingin memonopoli hasil bumi dari kedua kerajaan
tersebut. Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya berdagang tetapi
juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka.
Penyebaran agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun
(1550-1570). Ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan
Khairun dibunuh oleh Portugis.
Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan
kedua kerajaan membaik kembali. Sultan Khairun kemudian digantikan oleh Sultan
Baabullah (1570-1583). Pada masa pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari
Ternate. Keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Sultan Tidore. Sultan Khairun
juga berhasil memperluas daerah kekuasaan
Ternate sampai ke Filipina.
Sementara itu, Kerajaan Tidore mengalami kemajuan
pada masa pemerintahan Sultan Nuku.
Sultan Nuku berhasil memperluas pengaruh Tidore sampai ke Halmahera, Seram,
bahkan Kai di selatan dan Misol di Irian.
Dengan masuknya Spanyol dan Portugis ke Maluku, kehidupan beragama dan
bermasyarakat di Maluku jadi beragam: ada Katolik, Protestan, dan Islam.
Pengaruh Islam sangat terasa di Ternate dan Tidore. Pengaruh Protestan sangat
terasa di Maluku bagian tengah dan pengaruh Katolik sangat terasa di sekitar
Maluku bagian selatan.
Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah yang
sangat terkenal bahkan sampai ke Eropa. Itulah komoditi yang menarik
orang-orang Eropa dan Asia datang ke Nusantara. Para pedagang itu membawa
barang-barangnya dan menukarkannya dengan rempah-rempah. Proses perdagangan ini
pada awalnya menguntungkan masyarakat setempat. Namun, dengan berlakunya politik
monopoli perdagangan, terjadi kemunduran di berbagai bidang, termasuk kesejahteraan masyarakat.
Thank you.
FATURROHMAN
VII B
006
IPS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar